By : Muhammad Fata Ridhwana
Sudah beberapa hari terlewati setelah wisuda. Banyak kisah yang masih tersimpan dalam memoriku. Kadang aku ingin bercerita pada teman-teman, tapi aku sadar aku mungkin tak bisa bertemu lagi. Kalaupun bertemu, rasanya waktu terlalu berharga hanya untuk hal remeh ini. Namun, tetap saja aku ingin sekali bercerita.
Aku merindukan saat berdebat dengan mereka, saat membicarakan sesuaru yang tak penting. Tapi gaya kami bicara seakan hal ini akan mengubah nasib bangsa. Seakan tidak ada waktu lain untuk membicarakannya kecuali saat itu. Aku merindukan saat kami duduk bersama di serambi masjid. Berbagai hal terlontar, mulai dari yang penting, sampai kabar utara-selaran. Kadang kening ini berkerut mendengarnya, kadang senyum tersimpul di wajah kami. Semua masih lekat di ingatanku, seakan baru saja aku duduk bersama mereka.
Waktu memang menyimpan berjuta kejutan. Waktu begitu konstan, tapi begitu melalaikan. Sampai sekarang pun aku masih tersesat olehnya. Ada kalanya aku ingin sesuatu cepat berlalu, tapi ada pula aku ingin tetap seperti itu. Sekali lagi waktu menunjukkan kuasanya, dia berjalan tetap, tak kenal penghalang. Kadang ia terasa lama, tapi itu hanya perasaan kita belaka. Semua itu tak bisa mempengaruhi waktu. Justru waktulah yang terus mempengaruhi kita, mempermainkan perasaan kita.
Ingatkah perasaan saat kita menunggu perpulangan tiba, atau menunggu datangnya hari Jum’at? Masih ingatkah perasaan saat disidang di depan masjid? Saat menunggu datangnya waktu shalat? Atau saat kita berlibur, menikmati indahnya sedikit kebebasan? Ingat pula saat kita dilantik menjadi OP, saat kita melakukan study banding, saat MWSA. Saat kita serah jabatan, atau disaat kita menunggu datangnya UAN? Saat menanti kiriman dari pujaan hati, atau sekedar ucapan salam darinya? Saat kita menanti wisuda, berwisata bersama. Atau saat wisuda itu sendiri, ingatkah?
Samakah perasaan kita saat itu? Bagaimana keadaan kita saat itu? Inilah kejutan dari Sang Waktu. Dia berjalan konstan, tetap, begitu istiqomah, begitu tunduk pada Yang Kuasa. Tapi perasaan kita terombang-ambing karenanya. Sejak kita dilahirkan, kita sudah melangkah bersama waktu. Tergantung kita sendiri, akankah kita jadikan ia musuh, sahabat, atau guru hidup kita.
Kejutannya masih belum habis, masih ada dan akan terus ada kejutan lainnya. Salah satunya ialah kenangan kita akan hal-hal itu. Mampukah waktu menghapus semua itu? Atau malah membuatnya semakin kuat, erat tertancap dalam memori kita. Mari kita tentukan bersama sejak saat ini.
Apakah nanti kita akan berkata “friends, where’s the memories?”
Ataukah kita berteriak bersama “Friends, thanks for the memories ! ! !”
Senin, 18 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar